-
CESCR General Comment on Non-Discrimination
The UN Committee on Economic, Social and Cultural Rights has just adopted a General Comment on Non-Discrimination. Treaty bodies like the CESCR are mandated to monitor States’ compliance with their international obligations under international treaties such as, in this case, the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights. General Comments provide the Committee’s interpretation of the provisions of the Covenant. A General Comment on Non-Discrimination is therefore extremely significant in reflecting the grounds on which discrimination is prohibited and the scope of States’ obligations.
Last December, ARC International, IGLHRC, ILGA and CWGL put in a joint submission urging the Committee to include sexual orientation and gender identity in the General Comment, asking them to take note of the Yogyakarta Principles, and supporting the inclusion of a clause on multiple and intersecting forms of discrimination.
On 25 May, the Committee adopted its General Comment E/C.12/GC/20 on Non-Discrimination (attached). Among other things, the General Comment:
(i) affirms that “other status” as recognized in article 2(2) of the Covenant includes sexual orientation. This is a simple, strong and clear affirmation of the legal principle that the non-discrimination provision of the International Covenant prohibits discrimination on the ground of sexual orientation. The General Comment continues “States parties should ensure that a person’s sexual orientation is not a barrier to realising Covenant rights, for example, in accessing survivor’s pension rights.”
(ii) affirms that “gender identity” is also recognized as among the prohibited grounds of discrimination, and continues “for example, persons who are transgender, transsexual or intersex often face serious human rights violations, such as harassment in schools or in the work place.” Historically, this is the first time ever that gender identity has been explicitly recognized by a treaty body in a General Comment as a prohibited ground of discrimination in international law.
(iii) references the definitions of “sexual orientation” and “gender identity” in the Yogyakarta Principles. This is the first explicit recognition of the Yogyakarta Principles by a treaty body.
(iv) affirms the principles of multiple and systemic discrimination, recognizing that our identities are complex and intersecting, and that we are entitled to protection from both direct and indirect discrimination in relation to all aspects of our identity.
The General Comment now sets the standard against which State actions will be measured in all their future reports to the Committee, strengthens the work of other international human rights mechanisms in this area, and provide a clear legal framework which will also be of tremendous value as we prepare for the June 12 panel at the Human Rights Council.
more
-
Sosialisasi, Penguatan, Penyusunan Rencana Kerja TB-HIV
Beberapa daerah di Jawa Timur mempunyai prevalensi TB sekaligus HIV yang cukup tinggi. Hal ini dapat memberikan beban tambahan pada program TB maupun program HIV, sehingga intervensi yang bersifat kolaboratif sangat dibutuhkan untuk mengendalikan kasus-kasus HIV dengan TB. Oleh sebab itu dalam rangka program kolaborasi TB-HIV, Dinkes Propinsi Jawa Timur menyelenggarakan pertemuan “Sosialisasi, Penguatan, Penyusunan Rencana Kerja TB-HIV Kota/Kabupaten Propinsi Jawa Timur” pada tanggal 25-27 Mei 2009 di Hotel Grand Surya Kediri.
Pertemuan yang dibuka oleh drg Ansarul Fahrudda, Mkes (KASI P2 Dinkes Propinsi Jawa Timur), R. Otto B. Wahyudi (KPA Propinsi Jawa Timur) dan dr James Sinaya (FHI Jawa Timur) ini melibatkan 6 Kota/Kabupaten di Jawa Timur yaitu Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Madiun dan Kabupaten Banyuwangi. Para peserta pertemuan merupakan perwakilan dari Dinkes, KPA Propinsi/Kota/Kabupaten, Bappeko, rumah sakit, puskesmas, lapas, LSM dan PKK.
Dalam pertemuan ini, selain kembali mensosialisasikan tentang pentingnya kolaborasi TB-HIV, masing-masing Kota/Kabupaten yang hadir juga diminta untuk menyusun rencana kerja untuk program kolaborasi TB-HIV, baik jangka pendek untuk setahun ke depan atau jangka panjang lima tahun ke depan. Dari 6 Kota/Kabupaten yang melakukan presentasi, ada beberapa rencana kerja yang mereka rancang sebagai programnya, seperti: Pembentukan Pokja TB-HIV; Sosialisasi TB-HIV untuk direktur RS, tenaga layanan medis, ibu-ibu PKK hingga LSM, baik dalam bentuk workshop maupun pelatihan; pengadaan dan pendistribusian materi KIE tentang TB-HIV; mengadakan dan meningkatkan sistem rujukan TB-HIV; hingga rencana penambahan klinik VCT di Puskesmas.
more
-
Seminar Publik dan Bedah Buku "Biarkan Aku Memilih: Pengakuan Gay yang Coming Out"
Seminar Publik dan Bedah Buku (Untuk Umum/Gratis)
Biarkan Aku Memilih: Pengakuan Gay yang Coming Out
Tempat dan waktu:
Hari Kamis, 28 Mei 2009 pukul 09.00 - 13.00 wib
Aula Madya Lt I Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (dahulu IAIN), Jl. Haji Juanda Ciputat Jakarta
Narasumber :
- Stanley (Anggota Komnas HAM)
- Maria Hartiningsih (Wartawan Kompas)
- Muhammad Guntur Romli (Kongkow bersama Gusdur)
- Agustine (LSM Ardhanary Institute)
Moderator:
Iqbal Hasanudin (Alumin Formaci/Staff LSAF)
Pelaksana kegiatan :
Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
CP: Ismail (081386833214)
more
-
8th Leadership Course on Gender, Sexuality and Health

8th Leadership Course on Gender, Sexuality and Health in Southeast Asia and China by the Southeast Asian Consortium on Gender, Sexuality and Health. This is happening on on 28 September-13 October 2009 in Bangkok, Thailand.
Deadline for sending application is on 15 July 2009.
E-mail Programme Coordinator: coordinator@seaconsortium.net
E-mail Programme Assistant: progassist@seaconsortium.net
Web-site: www.seaconsortium.net
more
-
Diskusi Publik (Speak Out! Forum) Q Film Festival Yogya 2009
“NATURALLY DIFFERENT: BERBEDA SECARA LAZIM”
TEMPAT DAN WAKTU
Hari /tanggal: Kamis, 28 Mei 2009
Jam : 15.00 – 18.00 WIB
Tempat : Kampus UNIKA ATMAJAYA Babarsari Jogja.
PEMBICARA
1. Azhadi Siregar (Praktisi Media), akan berbicara tentang peranan Media dalam pembentukan prespektif masyarakat.
2. Iswandi (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah), akan berbicara tentang regulasi penyiaran yang ada di Indonesia.
3. Rully Malae (komunitas LGBTIQ), akan berbicara mengenai acara ”Be A Man” dan munculnya kekerasan horizontal terhadap komunitas.
MODERATOR: Pipin
more
-
Jawa Pos, 27 Mei 2009, Halaman 4

klik gambar di atas untuk memperbesar/membaca [pdf]
Link Jawa Pos
more
-
Q! Film Festival 2009 Digelar
Sebuah event seni dan budaya tahunan yang digelar di Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, dan Bali Q! Film Festival (Q!FFest), tahun ini kembali digelar dengan mengangkat tema 'Naturally Different' pada 26 - 31 Mei 2009.
Menurut humas Q!FFest, Ratna Mufida, festival film ini digelar untuk merayakan keindahan perbedaan di antara setiap individu sebagi sesuatu yang natural, alamiah sebagai manusia, khususnya dalam konteks keberagaman seksualitas.
Q!FFest 2009 akan diawali dengan pemutaran film produksi Kalyana shira foundation berjudul 'At Stake' (Pertaruhan) pada Selasa, 26 Mei 2009 pukul 21.00 di studio Empire XXI. Film tersebut adalah film dokumenter mengenai isu gender dan kesehatan reproduksi yang diproduksi oleh lima sutradara muda.
Selama festival, pemutaran film akan dilangsungkan di sejumlah lokasi yakni Universitas Atma Jaya Yogyakarta Babarsari, Sangam Resto, Movie Box Seturan, Movie Box Gejayan, dan Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta.
Dalam festival ini, sekitar 40 film yang terdiri dari film internasional dan lokal baik dalam bentuk film fiksi panjang, pendek maupun dokumenter akan diputar enam hari pelaksanaan festival.
Pada tahun ini, Q!FFest 2009 mempunyai agenda khusus yakni pemutaran film Indonesia lama yang memuat representasi LGBTQ seperti film Istana Kecantikan, Betty Bencong Slebor dan Gadis Metropolis.
Selain rangkaian pemutaran film, Q!Ffest 2009 juga akan menggelar pameran Qart exhibition yang akan dibuka pada tanggal 25 mei -5 juni di Sangam boutique dan resto dengan tema Different Masculinity.
Seluruh rangkaian acara akan ditutup dengan pemutaran film dokumenter kontroversial karya Parvez Sharma berjudul 'A Jihad for Love' yang akan dilaksanakan di auditorium LIP Yogyakarta pada 30 mei 2009.
Pertama kali digelar pada tahun 2005, Q! Film Festival (Q!FF) adalah festival film internasional pertama di Indonesia yang bertemakan gay, lesbian, biseksual, transgender (GLBT) dan isu-isu yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Q!FF diselenggarakan oleh sebuah organisasi nirlaba bernama Q-munity.
Sumber: gudeg.net
more
-
Undangan Diskusi Publik "Peran Keluarga dalam Mendukung Kelompok LGBTIQ sebagai Bagian Hak Asasi Manusia"
Berkaitan dengan peringatan Hari International Day Against Homophobia (IDAHO) 2009. IDAHO sebagai moment untuk mengingatkan kepada semua pihak bahwa kelompok Lesbian,Gay,Biseksual,Transgender,Intersex dan Queer (LGBTIQ) masih terus mendapatkan diskriminasi. Sehingga harus ada upaya untuk melakukan sosialisasi untuk memperjuangkan dan kesetaraan hak-hak bagi kelompok LGBTIQ. Kami jaringan LSM LGBTIQ melakukan rangkaian kegiatan yang terdiri dari aksi damai, diskusi publik dan malam budaya. Adapun salah satu kegiatan yang kami lakukan diskusi publik yang dilakukan pada:
Hari/Tanggal: Rabu/ 27 Mei 2009 pukul 10.00 - 13.00 (ditutup dengan makan siang)
Tempat: Gedung Graha Bhakti Antara lantai 2, Jl antara No. 59 Jakarta Pusat, Telp 021- 348 35261-62 (Daerah Pasar Baru)
Tema: ”Peran Keluarga Dalam Mendukung Kelompok LGBTIQ Sebagai Bagian Hak Asasi Manusia”
Narasumber :
1. Ino ( Kelompok Lesbian Muda dari Institute Pelangi Perempuan )
“ Peran Keluarga Dalam Mendukung Penguatan Eksistensi diri kelompok Lesbian muda”
2. Aldo ( Kelompok Gay dari OurVoice)
“ Memahami keberagaman seksualitas sebagai bagian dari Spiritualitas manusia”
3. Ines ( Kelompok Waria dari Yayasan Srikandi Sejati)
“ Fakta kelompok waria antara yang dihujat dan dinikmat”
4. Orang Tua Yang Menerima Anak LGBTIQ
” Peran Keluarga Dalam Membangun eksistensi diri kelompok LGBTIQ sebagai bagian kelompok:
Moderator: Agustine (Ardhanary Institute)
Dengan ini kami mengundang rekan-rekan untuk dapat hadir dalam diskusi publik sebagai peserta aktif. Sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih.
a.n Panitia IDAHO 2009
(Ardhanary Institute, Arus Pelangi, Forum Komunikasi Waria, Institut Pelangi Perempuan, Our Voice, Yayasan Srikandi Sejati)
more
-
Graha Mitra: Workshop Management Organisasi Waria (Jateng)
Dalam rangka ikut menahan laju epidemi hiv di Indonesia tercinta ini, GRAHA MITRA bekerjasama dengan persatuan waria yang ada di Jawa Tengah mengadakan kegiatan Workshop Management Organisasi & Advokasi bagi Waria dalam upaya pecegahan HIV & AIDS di Jawa Tengah. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 25-28 Mei 2009 di Semarang.
Bagi temen-temen waria yang sudah mempunyai organisasi dan akan memperkuat organisasinya, tetapi pada kesempatan ini belum bisa mengikuti acara ini, kami berjanji akan mengadakannya lagi tahun depan. Kegiatan ini dirancang untuk lebih mengeksiskan organisasi waria yang ada baik dari segi management ataupun dari sisi yang lain. Karena kami berharap berdirinya suatu organisasi tidak hanya beberapa saat saja, tetapi bisa berkelanjutan serta bisa bermanfaat bagi komunitas maupun orang banyak.
Graha Mitra,
Yoyox
more
-
Undangan Perayaan IDAHO di Apollo Bar
Panitia perayaan IDAHO, mengundang keluarga besar LGBTI untuk hadir di "Negeri Pelangi" pada Hari Minggu, 24 Mei 2009. Pukul 21.00 - selesai. Tempat di Apollo Bar, Bellagio Mall UG Level 2, Jl. Mega Kuningan Barat VII (Invitation only).
Bagi teman-teman yang ingin hadir silakan mengambil undangan (gratis) di Kantor Sekretariat Ardhanary Institute: Kompleks Jatipadang Blok C/ 8, Jatipadang - Jakarta Selatan. Tlp. 021-78840783. Undangan terbatas, jadi siapa yang cepat... dia lah yang dapat.
Salam hangat,
Agustine
more
-
Edutainment YSS, 23 Mei 2009 di Taman Lawang - Menteng, Jakarta Pusat
Yayasan Srikandi Sejati (YSS) saat ini sedang menjalankan program Pencegahan dan Penanggulangan Epidemi HIV/AIDS di kelompok waria khususnya di lima wilayah DKI Jakarta dan juga wilayah Depok. Program ini sudah kami mulai sejak tahun 2003 sampai sekarang, dan didukung penuh oleh FHI/ASA-USAID.
Salah satu strategi YSS dalam mencapai tujuan adalah melakukan kegiatan ‘Edutainment’ yaitu penyuluhan HIV/AIDS yang dikemas dalam bentuk hiburan dangdutan. Sasaran dari kegiatan ini adalah kelompok waria dan pria risiko tinggi, dengan tujuan agar tumbuhnya kesadaran tentang bahaya seks yang beresiko tertular IMS/HIV/AIDS yaitu berganti-ganti pasangan (seks bebas) tanpa kondom.
Untuk bulan Mei 2009 ini, kegiatan tersebut akan kami selenggarakan, pada:
Hari/Tanggal: Sabtu malam Minggu, 23 Mei 2009
Jam: 20.00 – 24.00 WIB
Tempat: Jl. Sumenep Taman Lawang, Menteng Jakarta Pusat
Jadwal acaranya sebagai berikut:
20.00 – 21.00
- Pembukaan dan Do’a bersama
- Laporan Ketua Penyelenggara Edutainment
- Sambutan-sambutan:
1. Ketua KPAK Jakarta Pusat
2. Ketua Yayasan Srikandi Sejati
3. Ketua FKW Indonesia
4. Ketua FKW DKI Jakarta
5. KL, PL, MK Jakarta Pusat
21.00 – 23.00
- Hiburan dan Penyampaian Informasi IMS, HIV dan AIDS
- Distribusi KIE, Kondom kepada pengunjung oleh PE dan
teman-teman KL/PL/MK Yayasan Srikandi Sejati
23.00
Penutupan dan Do’a bersama
Bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi, silahkan datang berkunjung pada acara tersebut...GRATIS
more
-
The Nyelathu Show 'Fenomena Penyuka Sesama Jenis'

Melalui kesempatan dari acara IDAHO 2009, GAYa NUSANTARA mendapatkan undangan dari JTV untuk mengisi acara yang memiliki ratting tinggi di Surabaya yaitu The Nyelathu Show. Acara malam yang bersegmen untuk keluarga di Surabaya ini menggabungkan wawancara, ludrukan dan monolog dengan fenomena-fenomena yang terjadi di Surabaya. Dan tema mereka kali ini adalah “Fenomena Penyuka Sesama Jenis”.
Maka pada pukul 19.00 JTV dipenuhi oleh kawan-kawan dari GN yaitu, Erick “Ericka” Yusufanny, Yohanes “Angeli”, Adi “Andre” Kurniawan, Tonny, Maria Mustika, Sofie dan Mbok Danny yang hadir sebagai tamu dari komunitas LGBTiQ, sementara Antok dan Chocco hadir sebagai pengamat dari GN. Narasumber yang hadir pada acara live show pada pukul 21.00-23.00 ini adalah Sardjono Sigit dan Edyth Revanatha.
Pada pembukaan awal yang lebih banyak didominasi oleh penjelasan dari pembawa acara mereka berpindah dengan bertanya pada kawan-kawan komunitas, ketika mereka melihat Erick mereka terkejut oleh penampilan Erick yang sangat maskulin dnegan jambangnya namun berperilaku feminin yang disikapi oleh Erick dengan tenang, “Ya saya memang seperti ini dan saya ingin diterima apa adanya.”, bahkan dia menegaskan bahwa hak kerja merupakan hal penting bagi komunitas LGBTiQ, “ Banyak koq temanku berpendidikan tinggi, namun tidak mendapatkan kesempatan kerja yang sama karena penampilan mereka.” sementara itu duo pembawa acara itu terpesona oleh kehadiran Andre yang terbilang belia namun sudah berani muncul, “Saya sudah terbuka pada keluarga dan mereka sudah menerima saya apa adanya itu yang memberikan saya keberanian untuk muncul hari ini.”
Setelah ludrukan para narasumber dipanggil ke depan. Mereka kemudian bercerita mengenai keterbukaan pada keluarga, Sigit menjelaskan, “Saya tidak suka menutup-nutupi jadi dari awal saya selalu apa adanya, dan ketika saya terbuka mengenai orientasi saya tidak ada terlalu terkejut.”, Edyth pun bahkan bercerita bahwa dia sudah menikah dengan pasangannya, “Pasangan saya kan kebetulan dari Ponorogo, di sana pihak keluarganya meminta supaya saya menikah secara adat dengannya, supaya sah. Jadi sekarang saya ini statusnya sudah menikah, meski tidak melalui status hukum atau negara. Saat ini saya sudah mengangkat anak bersama dengan suamiku.” Bahkan ketika ditanyai mengenai anak, Sigit menegaskan, “Saya sendiri tidak terlalu memikirkan mengenai anak, namun pasangan saya sangat menginginkan anak.”
Acara The Nyelathu Show menjadi sedikit panas, ketika anggota komunitas merasa tidak mendapat porsi yang sesuai untuk menyampaikan aspirasinya sementara pihak televisi mulai membangun berbagai opini untuk disikapi. Maka ketika telepon mulai masuk dan menyatakan bahwa menjadi LGBTiQ itu melawan kodrat bahkan ada yang mempertanyakan tidakkah takut dengan azab, perlawan mulai dilakukan dengan teriakan “huuuu...” dari kawan-kawan komunitas.. Namun ternyata, penelpon tidak semuanya menentang, Wanda seorang waria menelpon dan menegaskan, “Kami ini juga manusia, kami punya hak dan kebutuhan yang sama, tolong jangan diskriminasi.” Dan ada beberapa telepon yang memberikan dukungan pada komunitas yang disambut dengan teriakan, “Horeee” acara yang semakin seru itu akhirnya ditutup oleh Andre dengan mengatakan, “Kami ini sama normalnya dengan orang lainnya, karenanya jangan bilang normal atau tidak normal.”
more
-
Pemeriksaan IMS dan VCT di GN 20 Mei 2009
Pemeriksaan IMS dan VCT di GN untuk bulan ini jatuh pada hari Rabu 20 Mei 2009 pukul 12.00 wib sampai selesai. Silakan kawan-kawan datang untuk memeriksakan diri ke GNCC, Jln Mojo Kidul I no.11-A Surabaya, telp. 031-5914668. Ajak pasangan dan teman-temanmu sebanyak-banyaknya ya... Jangan khawatir, kerahasiaan terjamin. Hanya kamu dan petugas layanan kesehatannya saja yang tahu hasilnya. Kegiatan ini didukung oleh Puskesmas Perak Timur Surabaya dan Family Health International.
more
-
IDAHO 2009: Bersama Beragam Tiada Batas

Tanggal 17 Mei dirayakan sebagai International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHO) atau Hari Internasional Melawan Homophobia dan Transphobia. Di mana pada tanggal 17 Mei 1990 PBB melalui WHO telah mencabut homoseksual dari daftar penyakit mental atau gangguan jiwa, yang kemudian diikuti oleh berbagai negara di dunia termasuk Indonesia yang mengeluarkan PPDGJ III.
GAYa NUSANTARA turut berpartisipasi pula dalam perayaan IDAHO 2009 yang kali ini mengambil tema “Bersama Beragam Tiada Batas”, dengan didukung oleh Perwakos, Us Community, Center For Marginalize People, Center For Religion and Cultural Studies, Savy Amira, Samitra Abhaya-Koalisi Perempuan Pro Demokratik, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jatim, Women Working Group to Support Multiculturalism (WSM), Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan, Kelompok Pendidikan Alternatif Sidoarjo, Indonesian Slum Children Organization, Pusat Studi Hak Asasi Manusia Ubaya, PKBI-Sebaya, Yayasan Genta, Yayasan Bina Hati, Yayasan Media, PT Miracle Advertising, Igama, KK Wamarapa, EJA, HIVOS dan Family Health International (FHI). Bertempat di Monumen Kapal Selam Surabaya, serangkaian acara digelar dalam perayaan IDAHO 2009, yaitu bazaar LSM, talkshow, pemutaran film dan edutainment.
Dipandu oleh duet Erica dan Angeli, perayaan IDAHO 2009 mengalir dengan lancar. Dimulai dengan bazaar LSM pada pukul 15.00 wib, di mana para LSM yang terlibat menampilkan profil lembaga masing-masing berikut kegiatan dan hasil-hasil kreativitas mereka. Dilanjutkan dengan talkshow pada pukul 17.00 wib yang dipandu oleh Maria Mustika (GN), menampilkan nara sumber Irma Subechi (aktivis waria dari Perwakos), Rudi Sinyo (aktivis IDU dari EJA) dan Hapsari (aktivis perempuan dari WSM). Dalam bincang-bincang santai tersebut, dipaparkan bagaimana ke tiga narasumber tersebut pertama kali bertemu LGBTIQ, menyikapinya hingga akhirnya dapat menerima bahkan bekerjasama dengan LGBTIQ. Usai talkshow dilakukan pemutaran film dokumenter yang menggambarkan tentang pelanggaran hak-hak LGBTIQ di Brazil.
Sempat terhenti sejenak karena hujan, perayaan IDAHO 2009 dilanjutkan kembali pada pukul 19.00 dengan pentas edutainment. Di atas panggung terbuka dengan latar belakang Monumen Kapal Selam dan sesekali diiringi gerimis hujan, seluruh pendukung acara tetap bersemangat menunjukkan berbagai macam ekspresi LGBTIQ melalui karya seninya. Dibuka oleh Teater Binan yang mendapat applaus meriah karena mengusung tema “Bersama Beragam Tiada Batas”, dengan menampilkan sosok-sosok gay, lesbi, waria dan ODHIV dalam jalinan ceritanya. Kemudian berlanjut dengan berbagai tampilan lipsinc dari Miss Wenny (Igama) yang anggun bak seorang diva, lalu Miss Sisca Badak (Perwakos) dengan goyang dandutnya, serta Miss Audi & Miss Alexia yang tampil rancak didampingi tiga penari latarnya. Ada juga pembacaan puisi oleh Miss Keke (KK Wamarapa) serta tarian teatrikal dari kawan-kawan Yayasan Media. Tak ketinggalan pula penampilan glamour ala kabaret Broadway yang diusung oleh CC Entertainment.

Di sela-sela semaraknya panggung seni LGBTIQ, diberikan pula hadiah untuk para pemenang turnamen bulu tangkis GN Superseries. Dan tentu saja yang menjadi inti acara adalah pembacaan Pernyataan Sikap Bersama dari 18 lembaga di Surabaya dan Sidoarjo dalam memperingati IDAHO 2009, yaitu: menyatakan LGBTIQ adalah bagian dari masyarakat dunia; LGBTIQ tidak berbeda dengan masyarakat lainnya; LGBTIQ bukan sebagai penyimpangan atau gangguan mental; menentang perilaku yang melecehkan dan mendiskriminasikan LGBTIQ; serta mengajak masyarakat untuk menerima keragaman orientasi seksual dan ekspresi gender sebagai hak asasi manusia yang harus dihargai dan dilindungi.
more
-
South Korea, IDAHO statement

[IDAHO Statement] Homo- and transphobia are the ailments to be cured!
May 16, 2009
Do homosexuals “deserve” to be criticized? “Must” transgenders and transsexuals be excluded from society? Is it “right” to demean and hate sexual minorities?
Sexual minorities have already exited everywhere and at all times. As such, being one is a matter of factuality, not of choice or ethics. Although some cite the preservation of the human race to argue that homosexuals and transgenders/transsexuals are “unethical,” this is no different from criticizing infertile heterosexual couples. In addition, even in terms of medical technology, the question of fertility by no means makes a distinction between sexual minorities and majorities and, furthermore, seeing the continuation of the race from an ethical perspective is in itself fundamentally flawed. Thumping certain religious texts, still others claim that being a sexual minority is a “sin.” However, such behavior not only betrays misunderstanding of the texts but also expresses to society at large in an oppressive form what cannot be universally accepted in modern secular society and therefore reveal a misunderstanding of today’s ideology, ethics, and institutions.
Nevertheless, homophobia and transphobia are rampant in Korean society. Furthermore, many reveal their misunderstanding and ignorance of and prejudice against sexual minorities, thus deeply hurting LGBT people individually and collectively. As a result, sexual minorities make great efforts to disregard, suppress, and deny aspects of themselves that differ from “received gender roles” already present in and visible to themselves and their families, friends, and colleagues. Such behavior justifies discrimination and oppresses all of us mentally and physically, in a compulsive way. Such homophobia and transphobia therefore are problems on an ethical level and “ailments” that must be treated, as the medically derived word “phobia” implies. Moreover, this is a fundamental problem that affects not only individuals but also the entire society.
We find blatant homophobia and transphobia in official and institutional spheres. For instance, Article 92 of the Military Criminal Act (MCA), which has been effective since 1962, denigrates homosexuality with the very wording of its clause on “sodomy.” Furthermore, it is seriously problematic that this article even punishes consensual homosexual acts that occur between soldiers in privacy. Recognizing the problem, the military court commendably requested the Constitutional Court of Korea (CCK) for a legal judgment on the unconstitutionality of the article in 2008. The CCK must promptly abolish this article, which ignominiously has been dubbed the “gay punishment article,” by declaring it unconstitutional.
Likewise, the attitude of the Supreme Court of Korea (SCK) is highly problematic. A year ago, in a case involving none but Article 92 of the MCA, the SCK gave the following ruling, thus exposing its ignorance and misunderstanding of human rights and constitutional basic rights: homosexuality was something that “objectively arous[ed] revulsion among the general public and [was] contrary to a sound sense of sexual morality.” Furthermore, the SCK has betrayed similar prejudice against and ignorance of transsexuals. By refusing to see those who have become female through gender reassignment surgery as women on grounds of chromosome structure and public evaluation and attitudes, it excludes male to female (MTF) transsexuals from possible victims of rape. Thus citing public opinion to arrive at the self-contradictory judgment that these transsexuals are “women yet not women” unmistakably constitutes one form of transphobia. It is encouraging that, earlier this year, the Busan District Court ruled that transsexuals could be victims of rape. The SCK must accommodate such reconsiderations. Korean courts must overcome their homophobia and transphobia and discharge their duties of protecting and guaranteeing human rights and basic rights.
In addition, in the process of legislating the Anti-Discrimination Act, in the Family Act, which excludes sexual minorities’ right to form legal families of their own, in school curricula that define homosexuality and transgenderism as “problematic,” and in all institutional spheres where sexual minorities are considered to be either absent or “harmful,” we find alarming prevalence of homophobia and transphobia. Such phobias and hatred must be rethought deeply and overcome in the name of guaranteeing human rights and diversity.
We are seriously concerned, too, about the homophobia and transphobia that are widespread in private and non-institutional sectors. At the beginning of the year, a group of right-wing extremists publicly criticized homosexuality and sought to incite prejudice and discrimination by protesting in front of the National Human Rights Commission of Korea (NHRCK), with preposterous slogans such as “Male daughters-in-law? Over my dead body!” In other words, open disregard for human rights and flagrant hatred of sexual minorities occurred in broad daylight. We deplore the fat that such incidents can occur so blatantly and without any restriction.
On the other hand, we make an issue of those who freely exhibit their hatred of sexual minorities in everyday life. No one has the right to criticize and demean sexual minorities, whether individually or collectively and in terms of their innermost feelings and thoughts. Exhibiting groundless disparagement, hatred, and fear is simply forcing ideological and moral uniformity on the public. To do so would be directly contrary to the values not only of human rights but also of the respect for and the guarantee of human diversity and potential. This is why we all must ponder on the social and ethical implications of homophobia and transphobia.
Today is the International Day against Homophobia (IDAHO), a day commemorating the deletion by the World Health Organization (WHO) of homosexuality from the International Classification of Diseases (ICD), an official list of mental and physical disorders. However, we by no means will be satisfied simply with celebrating this day and boosting our own morale. On the contrary, this is the day to declare that the phobia of all sexual minorities and of all transgressions against existing gender roles is a serious ailment requiring treatment. Now, it is the time to eradicate homophobia and transphobia within. We hereby urge Korean society to engage in profound self-scrutiny and to bring about meaningful change.
Korean Gay Men’s Human Rights Group Chingusai
http://chingusai.net
tel:02-745-7942
fax:02-744-7916
more
-
Rainbow in Motion: Beijing Multi-campus Bike Ride on 09' IDAHO

Rainbow in Motion, the Beijing Multi-campus Bike Ride on 09' International Day Against Homophobia (IDAHO) was launched on May 17, Sunday, to celebrate gay pride, raise awareness of LGBT rights and introduce IDAHO to the queer community and general public of mainland China.
Close to 100 students and their friends participated in this public event. The biking team consisted of 16 riders, including gay and straight college students. The team rode throughout Beijing with rainbow flags and T-shirts with the words “HOMOSEXUALITY KNOWS NO BORDER”. They passed dozens of BJ's streets, impressing hundreds of vehicle drivers and pedestrians. The team visited seven university campuses, where they were welcomed by dozens of on-campus volunteers, most of them straight students who are LGBT allies, and together they handed out educational material to passers-by.
Large rainbow flag with the May 17th IDAHO logo was put up and drew crowds of students to gather. More than 5000 copies of reading materials and little gifts were given out, including pamphlets of “The ABC of Homosexuality”, postcards introducing IDAHO, lovely designed stickers and buttons with rainbow colors and IDAHO logo, and many rainbow-colored bracelets. Also, hundreds of signatures from the students were collected on a banner calling for UNDERSTAND LGBT PEOPLE, SAY NO TO DISCRIMINATION; BUILD A HARMONIOUS SOCIETY. While giving out these materials and gifts, the bikers and on-campus volunteers explained to the students and passers-by that homosexuality is not a mental disease and LGBT people should be respected and enjoy equal rights.
“I did not understand gay people before,” a student In Beijing Normal University told the volunteers when she signed the banner. “But later on one of my classmates came out to me, and I started to learn about LGBT issues. Now I am totally supportive.”
In China Agricultural University, some parents brought in their young kids and together they signed the banner. An elderly man told the volunteers that China used to be very conservative on LGBT issues before, and he was quite surprised to see activities like this and it showed that China is more and more open nowadays.
Rainbow in Motion is the first time that LGBT activists from mainland China have taken part in IDAHO, adding to this global campaign to fight against homophobia and transphobia an amazingly significant potential force of 1.3 billion. Majority of Chinese population still see gay people as sick or even abnormal, having no idea that as early as 1990 the WHO has eliminated homosexuality from the list of mental disease, and in 2001 China has also taken out homosexuality from its Category and Diagnostic Criterion of Mental Disorder.
Rainbow in Motion was co-organized by Common Language and Aibai Culture and Education Center, two pioneering organizations that have been working on LGBT rights in China for years. The campaign also relied on the younger generation's enthusiasm, creativity and most importantly, open-mindedness, and the fact that university campuses have become an active front for LGBT anti-discrimination campaigns and equal rights advocacy. In the past few years Aibai and Common Language have organized many campus events such as lectures, forums and LGBT college student summer camps. These events were very well received by the students and resulted in the calls for more. This time, with the inspiration from the L.A. Gay and Lesbian Center's pioneering AIDS Life Cycle, an annual long-distance bike ride to promote awareness of AIDS prevention and to raise fund for HIV medical care projects, the Beijing Multi-campus Bike Ride on 09’ IDAHO hit the road and enlightened the young souls with its vibrant rainbow in motion.
For more information, please contact idahochina@gmail.com.
more
-
Malam Renungan AIDS Nusantara 2009 di GN

Sabtu 16 Mei 2009, GAYa NUSANTARA menyelenggarakan Malam Renungan AIDS Nusantara 2009 di GNCC Jln Mojo Kidul I No.11-A Surabaya. Malam renungan yang berlangsung khusuk ini dihadiri perwakilan komunitas LGBTIQ dari Igama, KK Wamarapa (Malang), Gaya Delta (Sidoarjo), Perwakos, Us Community dan GN (Surabaya). Selain untuk mengenang kawan-kawan yang meninggal karena virus HIV, malam renungan ini juga bertujuan untuk membuat komitmen bersama dalam memberikan dukungan bagi kawan-kawan ODHIV (Orang Dengan HIV), serta bersama-sama mencari dan mendapatkan solusi bagi pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan HIV & AIDS di Indonesia, khususnya di komunitas LGBTIQ.
Rangkaian kegiatan Malam Renungan AIDS Nusantara 2009 di GN dimulai dengan pemutaran film dokumenter tentang testimoni dari ODHIV dan keluarga ODHIV. Dalam film tersebut menunjukkan bahwa dukungan dari keluarga maupun orang-orang terdekat, sangatlah berarti bagi kawan-kawan ODHIV, sehingga mereka mampu berdaya dan tetap survive dalam kehidupannya. Dilanjutkan dengan penyalaan lilin, sebagai simbol masih ada harapan untuk bangkit dan berdaya serta hidup layak bagi kawan-kawan ODHIV.
Yang sangat mengharukan adalah saat berbagi rasa dan cerita tentang pengalaman seputar pendampingan terhadap kawan-kawan ODHIV. Beberapa kawan menitikkan air mata karena tak mampu menahan perasaannya saat menceritakan pengalaman pribadi mereka terkait dengan stigma dan diskriminasi yang dialami kawan-kawan ODHIV. Suasana haru semakin larut saat beberapa puisi ciptaan almarhum Suzanna Murni (aktivis ODHIV) dibacakan. Maria (GN) dengan penuh perasaan membacakan puisi “Jika Kau Sayang Padaku”, sedangkan Keke (Wamarapa) membacakan “Bersama Membangun Harapan”, sementara Indra (GN) membawakan puisi “Dengarkan” (anonymous).
Suasana haru yang tercipta bukanlah bentuk suatu keputus-asaan, melainkan suatu proses perenungan yang dalam guna mencari solusi dari permasalahan yang ada dan membangun harapan bersama yang penuh dengan keoptimisan untuk mengikis stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV dan keluarganya serta komunitasnya. Beberapa lagu bernada harapan pun dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh peserta sebagai bentuk keoptimisan dalam penyelesaian permasalahan HIV & AIDS di kalangan LGBTIQ, yaitu “Usah Kau Lara Sendiri”, “Lilin-Lilin Kecil” dan “Negeri Di Awan”, serta lagu “Kemesraan” yang melambangkan komitmen kebersamaan dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.
Seluruh rangkaian Malam Renungan AIDS Nusantara 2009 diakhiri dengan menerbangkan balon-balon ke udara dengan membawa berbagai pesan-pesan tentang HIV & AIDS pada masyarakat, serta komitmen bersama dari komunitas LGBTIQ untuk terlibat aktif dalam pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia.
more
-
Sekolah Aktivis LGBTIQ I Jawa Timur (2 hari terakhir)

Melanjutkan dua pertemuan sebelumnya, kembali Sekolah Aktivis LGBTIQ I wilayah Jawa Timur dilaksanakan di GNCC pada tanggal 16-17 Mei 2009. Dengan peserta yang sama dari perwakilan Igama, KK Wamarapa (Malang), Perwakos, Us Community dan GN (Surabaya).
Pada pertemuan hari Sabtu 16 Mei 2009, dibuka oleh Poedjiati Tan selaku Kepala Sekolah LGBTIQ dengan mengajak para peserta untuk mengingat kembali materi-materi yang sudah dibahas dalam dua pertemuan sebelumnya. Sekaligus juga mengajak sharing para peserta tentang tugas-tugas mereka dalam mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ada di komunitas masing-masing.
Kemudian dilanjutkan dengan Mas Inung yang memberikan materi tentang bagaimana menjadi seorang aktivis. Di mana seorang aktivis diharapkan bisa menjadi motivator dalam membangun komunitasnya serta membuat organisasi dan membangun gerakan sosial. Para peserta diajak untuk melihat situasi yang ada di masyarakat dan sharing mencari solusi terhadap setiap permasalahan yang ada.
Materi selanjutnya adalah tentang Sejarah Gerakan LQBTIQ di Indonesia dalam bidang kesehatan, HIV & AIDS, film dan HAM yang disampaikan oleh Dede Oetomo. Dalam sesi ini diulas lebih dalam tentang pergerakan LGBTIQ di Indonesia, seperti misalnya berdirinya organisasi waria, gay dan lesbian pertama di Indonesia, yaitu Himpunan Waria Djakarta/HIWAD (waria), Lambda Indonesia (gay) dan Persatuan Lesbian Indonesia/PERLESIN (lesbian). Dipaparkan juga mulai munculnya gerakan LGBTIQ untuk pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS di era pasca reformasi. Juga gerakan-gerakan LGBTIQ di bidang HAM dan film.
Sesi terakhir dibawakan oleh Erni Julia Kok tentang Kepemimpinan dan Mengelolah Organisasi. Di mana peserta diajak untuk berdiskusi tentang bagaimana membuat organisasi dengan menentukan visi misi serta program-program kerjanya. Tak lupa juga dibahas tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang ideal. Dan usai sesi terakhir, seluruh peserta ikut dalam kegiatan Malam Renungan AIDS Nusantara 2009.
Pada pertemuan hari Minggu 17 Mei 2009, para peserta diminta untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan direalisasikan saat mereka kembali ke lembaga masing-masing. Dengan waktu pelaksanaan RTL ini adalah 3 bulan. Peserta diminta untuk mengidentifikasi dan memfasilitasi berdirinya kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi LGBTIQ baru di tempatnya masing-masing.
Rencananya Sekolah Aktivis LGBTIQ I ini akan dilanjutkan dengan Sekolah Aktivis LGBTIQ II, yang pesertanya terdiri dari 15 lembaga, yaitu: Gaya Batam (Batam), Yayasan Srikandi Sejati, Arus Pelangi, Ardhanary Institute, Institut Pelangi Perempuan (Jakarta), Himpunan Abiasa (Bandung), Vesta (Yogyakarta), Gessang (Solo), Igama, KK Wamarapa (Malang), Perwakos, Us Community, GN (Surabaya), Gaya Dewata (Denpasar-Bali), Gaya Celebes (Makassar).
more
-
Polisi Rusia menahan para aktivis gay

Aksi demonstrasi puluhan gay di Moskow ricuh. Akibatnya 40 orang ditangkap aparat kepolisian setempat.
Seperti dilansir AFP, Sabtu (16/5/2009), para pendemo ditangkap saat hendak memboikot acara kontes menyanyi Eurovision. Rusia berkesempatan menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya.
Kericuhan berawal ketika para pendemo mulai meneriakkan tuntutan persamaan hak bagi kaum gay.
"Fobia terhadap homoseksual adalah memalukan Rusia," kata seorang pendemo.
Seorang peserta aksi asal Inggris, Peter Tatchell, mengaku ikut ditahan bersama 31 orang lainnya di kantor kepolisian Moskow.
"Polisi menggunakan kekerasan. Tangan mereka ditekuk, sangat menyakitkan," kata Peter saat dihubungi lewat telepon oleh AFP.
Seorang pejabat kepolisian setempat memastikan, sekitar 40 orang aktivis telah ditahan dan akan dilepaskan setelah mendapatkan peringatan. Namun ia membantah jika ada aksi ilegal saat melakukan pengamanan bagi pendemo.
"Seluruh aktivitas terekam dalam video untuk menghindari aksi provokatif lainnya," kata polisi tersebut. (mad/mad)
- Sumber berita: detiknews.com
more
-
Uruguay Bolehkan Homoseksual Jadi Tentara
Pemerintah Uruguay kini membolehkan kaum homoseksual bergabung dengan angkatan bersenjata negara tersebut. Hal itu terlihat dari dibatalkannya peraturan permiliteran yang menggolongkan homoseksual sebagai sebuah ketidakteraturan dalam institusi tersebut.
"Pemerintah Uruguay menyatakan bahwa pihaknya sama sekali tidak melakukan diskriminasi terhadap warga Uruguay, baik berdasar sikap politik mereka, suku, maupun identitas seksualitas mereka," ujar Presiden Uruguay Tabare Vazquez, Jumat (15 Mei 2009).
Tahun 2007 silam, Uruguay menjadi negara pertama di Amerika Latin yang mengakui hubungan antar kaum homoseks dengan memberi pasangan tersebut berbagai hak yang didapat pasangan pria dan wanita pada umumnya, seperti pengakuan warisan, dana pensiun, hingga tahanan anak.
"Sebelumnya memang terdapat beberapa peraturan demi persyaratan fisik dan psikologi untuk bergabung ke tentara Uruguay yang menyatakan homoseksual merupakan sebuah kelainan yang membuat sebuah kondisi tidak teratur. Peraturan tersebutlah yang kini sedang diusahakan untuk ditiadakan," ujar Deputi Kementerian Pertahanan Uruguay, Jorge Menendez.
Di lain sisi, beberapa tentara yang telah pensiun menyatakan ketidasetujuannya terhadap keputusan tersebut. Mereka menyatakan bahwa dengan ditiadakannya peraturan tersebut akan mempengaruhi sikap disiplin di kesatuan tersebut.
Negara Uruguay yang berpenduduk 3,5 juta penduduk saat ini memiliki kekuatan angkatan bersenjata sebanyak 30.000 orang termasuk tenaga administrasi.
more
-
Undangan Speak - Art Forum: Let's Bring Sexual Identity as Part of Diversity!
Youth Speak and Action Initiative (YSAI) adalah komunitas muda kampus yang peduli dan bergerak pada isu kesetaraan dan keberagaman. Dalam rangka Hari Internasional Melawan Homophobia, YSAI akan mengadakan kegiatan Speak-Art Forum; sebuah forum sharing bersama yang sifatnya informal dengan pendekatan seni sebagai sarana aktualisasinya.
Speak-Art Forum ini akan mengangkat tema "Let's Bring Sexual Identity as Part of Diversity!" sebagai sebuah cara untuk memperkenalkan dan mengakrabkan isu identitas seksual sebagai bagian dari keberagaman yang juga ditemui di lingkungan kampus.
Acara Speak-Art Forum ini akan dilaksanakan pada hari/Tanggal Senin, 18 Mei 2009, jam 12.00 - 14.30, bertempat di Laboratorium Defensia, Ruang Agus Salim I-5, FISIP Universitas Pembangunan Nasional "Veteran", Jl. Tambakbayan No.2 Babarsari Yogyakarta. Ada dua kegiatan, yaitu pertama screening video interview tentang perspektif homoseksual di lingkungan kampus dan sharing bersama, dan kedua adalah art performances dari individu yang peduli pada isu keberagaman dan homoseksual
Speak-Art Forum ini diharapkan akan menjadi sarana untuk membangu dialog antara teman-teman heteroseksual dan homoseksual yang ada di kampus dan menjadikan orientasi seksual sebagai sebuah bagian dari keberagaman dalam lingkungan kampus.
Informasi lebih lanjut, bisa hubungi Edith di 0813 7045 7545
more
-
It’s My Life Party
Hari Kamis 14 Mei 2009, Family Health International (FHI) bekerja sama dengan Cikal Bakal Production menggelar acara It’s My Life Party bertempat di Foreplay Sutos Surabaya. Ajang untuk mempromosikan website: www.itsmylifeclub.com ini khusus ditujukan bagi kawan-kawan gay dan LSL tertutup di kota Surabaya dan sekitarnya. Tak kurang dari 200-an undangan dari kalangan gay dan LSL tertutup menghadiri acara ini, termasuk juga perwakilan dari GN dan IGAMA.
Website www.itsmylifeclub.com sendiri merupakan situs tentang IMS, HIV & AIDS yang ditujukan untuk gay dan LSL di Indonesia, khususnya bagi mereka yang masih belum coming out dan kesulitan untuk mendapatkan akses informasi secara langsung seputar IMS, HIV & AIDS. Melalui website ini, diharapkan lebih banyak lagi komunitas gay dan LSL yang dapat memahami dan mengerti tentang cara-cara pencegahan dan penanggulangan IMS, HIV & AIDS. Sehingga diharapkan target Strategi Nasional untuk Pencegahan dan Penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia yang mencanangkan 80% dari estimasi populasi gay dan LSL terpapar informasi tentang IMS, HIV & AIDS dapat tercapai.
Dalam acara It’s My Life Party ini ditampilkan berbagai atraksi panggung seperti kabaret show, lipsinc, fashion show dan gogo dancers, yang selama ini memang diminati oleh kalangan gay dan LSL. Kehadiran berbagai performance yang menampilkan para lelaki sexy ini merupakan strategi jitu untuk dapat mengumpulkan gay dan LSL dalam jumlah yang cukup besar. Sehingga saat sudah terkumpul massa dalam jumlah yang besar, maka informasi tentang IMS, HIV & AIDS dapat diberikan sekaligus secara langsung oleh dr Stevanus selaku narasumber yang dihadirkan dalam party tersebut.
Selain menikmati party, para undangan dapat langsung log in ke www.itsmylifeclub.com melalui internet yang sudah disediakan diberbagi tempat. Beberapa Sales Promotion Boy yang cakep-cakep siap membantu para undangan untuk menjadi member website tersebut.
more
-
UNGA Joint Statement: Backgrounder
Hi everyone,
We have prepared the attached paper on the GA joint statement on sexual orientation and gender identity, primarily as a backgrounder to help inform discussions at tomorrow’s conference in Paris, but we thought it might also be of interest to list-members. Basically, it’s a “past, present and future” look at the GA joint statement, intended to situate the statement within its historical context, building on past initiatives and laying the groundwork for future action.
Best wishes,
John Fisher <john@arc-international.net>
UN GENERAL ASSEMBLY JOINT STATEMENT ON
SEXUAL ORIENTATION & GENDER IDENTITY:
BUILDING ON THE PAST, LOOKING TO THE FUTURE
Download file...
more
-
ILGA's 2009 State Sponsored Homophobia report

ILGA is proud to present the 2009 version of the State-Sponsored Homophobia ILGA report.
To raise awareness on the extent of State Sponsored Homophobia in the world, we’ve created a few items (in English, French, Portuguese and Spanish) you may want to use around you:
- The 2009 State Sponsored Homophobia report
- ILGA's TV ad against homophobia
- Banners for easy acces to this material on the web
The 2009 edition of the map on Gay and Lesbian rights will follow in the coming days.
We hope this is useful. Help spread the word!
Stephen Barris / ILGA
Download - State-Sponsored Homophobia A world survey of laws prohibiting same sex activity between consenting adults. The research, by Daniel Ottosson, Södertörn University, Stockholm, Sweden was updated in May 2009.
ILGA is proud to present the 2008 version of its map on LGBTI rights in the world.
more
-
IDAHO 2009 Jaringan LGBT Yogyakarta

Dalam semangat merayakan keberagaman tanpa kekerasan, JARINGAN LGBT
YOGYAKARTA yang terdiri dari lembega-lembaga yang ber isu LGBT, Perempuan dan Gender juga komunitas-komunitas LGBT dan Minoritas akan memperingati Hari Antihomophobia Internasional (International Day Against Homophobia) Tahun 2009 dengan menggelar rangkaian acara bertema : Jangan Ada Kekerasan Dalam Keberagaman
Tema di atas akan mengangkat tiga point berikut:
1. Kekerasan Berbasis Orientasi Seksual
Seperti yang telah kita tahu, Indonesia telah mensahkan Convention Againts Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishmant (CAT) through Law No. 5/1998. Dimana sebagian besar kasus kekerasan yang dialami LGBT belum mendapat perhatian dari pemerintah.
2. Peraturan Yang Diskriminatif terhadap LGBT
Hingga tahun 2007, beberapa kebijakan pemerintah, baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional yang diskriminatif telah diberlakukan.
3. Memperkenalkan Prinsip-prinsip Yogyakarta
Prinsip-prinsip Yogyakarta adalah sekumpulan dari prinsip-prinsip HAM yang dikaitkan dengan orientasi seksual dan identitas gender. Prinsip-prinsip yogyakrta ini dirmuskan oleh 29 pakar HAM dari 29 negara di Yogyakarta pada tanggal 6-9 November 2006 disosialisasikan oleh International Gay Lesbian Human Rights Commission (IGLHRC) di kota New York pada tanggal 26 maret 2007. Tujuan dibuatnya Prinsip-prinsip Yogyakarta untuk menyemangati Negara-negara anggota PBB untuk mengadopsi dan memberlakukan prinsip-prinsip ini dalam hukum negara masing-masing.
AGENDA:
1. DISKUSI PUBLIK
TEMA : Dukungan Keluarga terhadap LGBT
Tempat : Gedung PW NU DIY Jl. MT. Haryono 40/42 Yogyakarta
Tanggal : 15 Mei 2009
Pukul : 13.00 WIB – selesai
Pembicara :
a. Psikolog : Dra. Ira Paramastri, Msi.
b. Orang Tua : Ibu Missatun
Moderator : Miss Valentina Sri Wijiyati
2. PAMERAN FOTO KOMUNITAS
Tema : “What A Human!!!”
Tempat : Gedung PW NU DIY Jl. MT. Haryono 40/42 Yogyakarta
Tanggal : 15-17 Mei 2009
Pukul : 13.00 WIB – 19.00
3. AKSI DAMAI
Tempat : Monument SO1 Maret
Tanggal : 17 Mei 2008
Pukul : 07.00 WIB – selesai
4. PANGGUNG KEBERAGAMAN
Tempat : Kafe Kolong Langit, Jl. Seturan Yogyakarta
Tanggal : 17 Mei 2009
Pukul : 18.00 WIB – 22.00
more
-
Perayaan IDAHO 2009 di Surabaya

Mengutip tema Homosexuality Knows No Border – Homoseksualitas tak mengenal batas. Maka, perayaan IDAHO 2009 (International Day Against Homophobia & Transphobia) kembali diserukan di Surabaya tanggal 17 Mei 2009 oleh kawan-kawan LGBTiQ dari GAYa NUSANTARA, PERWAKOS dan US Community bersama-sama dengan kawan-kawan LSM dari berbagai isu dan organisasi pluralisme lainnya, antara lain: C’MaRS, CRCS, Savy Amira, KPPD, KPI Jatim, WSM, KS2K, KPAS, ISCO, Pusham UBAYA, Genta, Bina Hati dan Yayasan Media.
“Bersama Beragam Tanpa Batas!” demikian tema perayaan IDAHO kami. Diharapkan akan banyak diramaikan oleh munculnya suara LGBTiQ dari berbagai lapisan masyarakat, etnis, suku, berbagai rumah tangga dan berbagai keberagaman lain yang tidak ada batasnya.
Perayaan IDAHO 2009 di Surabaya akan digelar dalam bentuk Bazaar LSM, Talk Show & Panggung Seni di Monumen Kapal Selam – Surabaya, mulai pk. 15.00 hingga 22.00 WIB.
more
-
Undangan Aksi Damai IDAHO (Jakarta)
Seperti kita ketahui bahwa pada tanggal 17 Mei 1980 WHO telah mengeluarkan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/Transseksual (LGBT) dari kategori Mental Disorder (Gangguan jiwa). Momentum itu akhirnya ditetapkan sebagai Hari Internasional Melawan Homophobia atau International Day Against Homophobia (IDAHO) dan diperingati setiap tahunnya di berbagai negara di dunia. Adapun maksud diperingatinya IDAHO ini adalah untuk mensosialisasikan pentingnya pengakuan, pemenuhan, dan perlindungan hak-hak LGBT. Selain itu peringatan IDAHO ini juga digunakan untuk memberikan penyadaran dan pemahaman, baik kepada negara maupun kepada masyarakat, bahwa LGBT merupakan manusia normal. Satu-satunya perbedaan mereka hanyalah orientasi seksualnya.
Sehubungan dengan peringatan IDAHO tersebut, maka dengan ini kami bersama-sama dengan Organisasi LGBT (Institute Pelangi Perempuan, Ardhanary Institute, Yayasan Skrikandi Sejati, Forum Komunikasi Waria, Our Voice) mengundang kawan-kawan NGO untuk menghadiri dan berpastisipasi dalam acara Aksi Damai IDAHO dengan tema "SATUKAN TANGAN, RAYAKAN KEBERAGAMAN". Aksi Damai tersebut rencananya akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal: Sabtu, 16 Mei 2009
Jam: 10.00 wib
Tempat: Bunderan HI
Untuk konfirmasi lebih lanjut, kawan-kawan dapat menghubungi :
Yuli (0817 600 4446)
Ajie (021-99205642)
Kamel (085 88036 9195)
Demikianlah permohonan ini kami sampaikan. Semoga kawan-kawan NGO dapat hadir dan mengikuti Aksi Damai tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan kelompok LGBT untuk melawan dan menghapuskan semua bentuk diskriminasi terhadap LGBT di bumi Indonesia ini.
Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.
Hormat Kami,
Atas Nama Panitia IDAHO 2009
Arus Pelangi, Institute Pelangi Perempuan, Ardhanary Institute, Yayasan Skrikandi Sejati, Forum Komunikasi Waria, Our Voice.
more
-
Seminar Sehari Hasil Penelitian HIV dan AIDS
Pada tanggal 6 Mei 2009, pukul 09.00-13.00, di Ruang Blambangan, Lt. 1 Gedung Baru Kantor Gubernur Jawa Timur, berlangsung Seminar Hasil Penelitian HIV dan AIDS di Surabaya, kerja sama antara Tim Inti Penelitian HIV dan AIDS Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Yayasan GAYa NUSANTARA dan Pokja Penelitian dan Pengembangan KPA Provinsi Jawa Timur.
Peserta berjumlah 45 orang, terdiri dari akademisi, petugas layanan kesehatan, pejabat pemerintah dan aktivis LSM. Dari GAYa NUSANTARA hadir 4 orang yang pernah melakukan penelitian, yaitu Erick(a), Melly, Miky dan Tonny, selain Vera Cruz (Rafael H. da Costa) yang menjadi panitia dan Inung (Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag.) yang menyampaikan laporan sementara penelitian yang sedang berlangsung. Hadir pula sebagian besar anggota Tim Inti Penelitian, termasuk Dédé Oetomo, Ph.D. dari GN. Acara dibuka dan dihadiri oleh Dr Nafsiah Mboi, Sekretaris KPA, dan dihadiri pula dan ditutup oleh Drs Sunaryono, M.Si., Kepala Bagian Kesehatan Masyarakat pada Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur.
Pembicara :- Dr Erwin Astha, Sp.PD, Kepala UPIPI RSU Dr Soetomo, yang menyampaikan makalah tentang pohon penelitian khusus di UPIPI
- Dr Hans Lumintang, SpKK - RSU Dr Soetomo Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin, yang menyampaikan makalah tentang Kandidiasis Oral pada ODHIV
- dr Endang Retnowati - FK UNAIR Spesialis Patologi Klinik, yang menyampaikan makalah tentang Hubungan CD4 dan Herpes Simplex Virus-2 pada ODHIV
- Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag - GN, yang membawakan makalah tentang Seksualitas ODHIV
- Dr Gurendro Putra, SKM – dari P4TK yang merupakan anggota Pokja Litbang KPAP Jawa Timur
more
-
Gessang: Road Show go to Campus
Bulan Mei 2009 Gessang akan memulai kegiatan Road Show go to Campus, Tema yang diusung adalah tentang HOMOSEKSUAL. Setelah pada bulan Desember 2008 hingga sekarang beberapa staf Gessang diberi kesempatan untuk menjadi dosen tamu pada mahasiswa Pasca Sarjana (Promkes) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang yang memberikan kuliah tentang Homoseksual dan HIV dan AIDS serta telah membuat MOU untuk menjadi tujuan Residensi.
KegiatanRoad show pertama di bulan Mei adalah kerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Psikologi Fakulltas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), mengadakan seminar sehari dengan tema DIMENSI SEKS DAN JIWA HOMOSEKSUAL "Kebutuhan atau Pilihan?"
Kegiatan ini bertujuan :
-Memperingati IDAHO 2009
-Mengetahui dan memahami Homoseksual dalam sudut pandang Seksologi
-Mengetahui dimensi jiwa dan hubungan bermasyarakat komunitas Homoseksual
-Memahami Homoseksual secara utuh
Kegiatan akan dilakukan pada hari Sabtu 17 Mei 2009 mulai jam 8 pagi bertempat di Aula Fakultas Kedokteran UNS, Jl Kol Sutarto No 150 Solo.
Ada 3 Narasumber:
1. Prof Koentjoro (Dosen Fak Psikologi UGM Jokjakarta)
2. dr Istar Yuliadi (Dosen FK UNS , mantan calon Wakil Walikota Surakarta)
3 Moch.Slamet Raharjo (Yayasan GESSANG)
Kegiatan ini akan dihadiri mahasiswa UNS dan mayarakat umum, diawali dengan pemutaran film tentang Homoseksual, dan dilanjutkan pemaparan materi oleh Nara sumber dan diskusi.
Bagi teman-teman yang ada di sekitaran Solo, Jokja atau wilayah Jawatengah lainya apabila pada hari tersebut punya waktu luang, silahkan hadir. Demikian Info dari Solo, Terimakasih. (Slamet)
more
-
5th Netherlands Transgender Film Festival, May 20-24, Amsterdam

T-Image Foundation, in cooperation with Cinema de Balie, presents:
5th Netherlands Transgender Film Festival
May 20 – 24, 2009
De Balie, Amsterdam
www.transgenderfilmfestival.com
T-Image Foundation likes to welcome you to the 5th edition of the Netherlands Transgender Film Festival, another fantastic five-day event drawing transgender people, friends, family and allies. We are especially proud this year to create a ‘community program’ of free events, such as screenings of activist documentaries from around the world and two workshops for first-time and newly-initiated filmmakers. Come one and all to be inspired and challenged!
What’s in store at the festival:
The festival opens with the sexy and sassy burlesque cabaret performance, Madame Pierre's Other Tongue by Lazlo Pearlman. Lazlo's flirty and dirty performance kicks-off a line-up of poignant films from the Sex Positive themed-program that dares to show loving trans and intersex relationships in detail, such as the groundbreaking TransEntities. Family Ties is also one of our focused themes this year with several award-winning films that through intimate documentary and inventive fiction pose the question of what it means to transition not just for the individual, but for the partners, closest friends and family. Read more...
more
-
RIP: Indra Gunawan, Koordinator KDS Saribattangku Makassar
Telah meninggal dunia, Indra Gunawan (Indri Morizet), Koordinator KDS Saribattangku Makassar, juga pernah sebagai Koordinator Kelompok Penggagas KDS di Sulawesi Selatan yang saat ini telah berubah nama menjadi Yayasan Kelompok Peduli KDS Sulawesi Selatan di bawah Koordinasi Rahman Rahim. Almarhum juga pernah menjadi staf Yayasan Gaya Celebes Makassar. Almarhum meninggal dunia hari Kamis, 7 Mei 2009, sekitar pukul 15.30 WITA, dan telah dimakamkan pada hari Jumat, 8 Mei 2009 pukul 13.00 WITA.
more
-
L-Gathe: International Day Against Homophobia
Youk gabung bareng kita di L-Gathe: International Day Against Homophobia.
May 16-17, 2009
WE Have: Couple Contest, Lipsing Contest - Category Couple & Single -, Battle Dance, Acoustic, Gathering Party, Sport Competition.
@ Bumi Perkemahan Setiawan Jodie
Tawangmangu, Karanganyar.
Registrasi: Rp 75.000,00
(Akomodasi, Transportasi: Solo - Tawangmangu (PP), Seminar)
Contact Person
Key - 085647161077
Zevit - 081804515000
Informasi dan pendaftaraan bisa dilakukan di
Yayasan GESSANG Kota Surakarta
Jalan Cokrobaskoro 201 B Surakarta
Telp: 0271 - 730676
website: www.gessang.org
Forward ke teman-teman yang lain ya...
more
-
Pemeriksaan IMS dan VCT di GN, 20 Mei 2009
GAYa NUSANTARA bekerja sama dengan Puskesmas Perak Timur Surabaya dan Family Health International (FHI) mengadakan pemeriksaan IMS dan VCT gratis pada hari Rabu 20 Mei 2009 pukul 12.00 wib-selesai di GNCC, Jln Mojo Kidul I no.11-A Surabaya, telp (031) 5914668. Kerahasiaan terjamin. Ayo segera periksakan kesehatan seksualmu. Kesehatan kita ada di tangan kita sendiri. Kita juga bisa saling berkenalan dengan teman-teman baru di sini.
more
-
Funding Opportunity: amfAR MSM INITIATIVE
PLEASE DISTRIBUTE WIDELY
MSM COMMUNITY AWARDS FOR ASIA AND THE PACIFIC
amfAR, The Foundation for AIDS Research, is pleased to announce the availability of funding for small awards to support projects that address HIV among men who have sex with men (MSM). Frontline organizations and collaborations in Asia and the Pacific are encouraged to submit relevant proposals.
Individual organizations are eligible for awards of up to $15,000 USD. Collaborations are eligible for awards of up to $30,000 USD. The deadline for submitting proposals is June 8, 2009.
The current RFP, forms and instructions can be found at http://www.amfar.org/grants. If you have questions or need assistance in completing your application, please feel free to contact amfAR at msm.awards@amfar.org.
The MSM Initiative was founded and is administered by amfAR, The Foundation for AIDS Research, and benefits from collaboration with the Global Forum on MSM & HIV, UNAIDS, and many other partners. amfAR, in partnership with the Global Forum on MSM & HIV and UNAIDS, has identified three global objectives for the MSM Initiative: supporting frontline organizations and networks working to address HIV among MSM; supporting effective policies and increased public funding for HIV prevention and treatment efforts among MSM; and supporting research to build understanding of HIV epidemics and interventions among MSM. For more information about the initiative visit http://www.amfar.org/msm.
more
-
A Personal Promise From President Obama On “Don’t Ask, Don’t Tell”

Last night, I received a phone call filled with exciting news from a close friend to GLAAD, Second Lieutenant Sandy Tsao. Sandy is a Chinese American woman and army officer based out of St. Louis, Missouri. Sandy originally reached out to me last January as a result of her brave decision to come out as gay.
At the same time, Sandy also sent a heartfelt letter to President Obama urging him to repeal Don’t Ask, Don’t Tell (DADT).
While the story of revised White House Web site language may fall out of the news cycle, we can be sure that DADT will continue to capture the media spotlight. The advocacy, reports and media coverage surrounding the ban have only expanded the public debate, scrutinizing the reasons and rationale for delaying the day when openly lesbian, gay and bisexual people can serve in the military. Read more...
Obama's Letter (click to view larger image)
more
-
Roadshow GF-ATM di Surabaya

Pertemuan Persiapan dan Penguatan Kapasitas
Tim Propinsi dan Kabupaten/Kota
Dalam Rangka Implentasi GF-ATM Ronde 8
Bertempat di Hotel Bumi Surabaya, pada tanggal 4-8 Mei 2009 Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menyelenggarakan “Pertemuan Persiapan dan Penguatan Kapasitas Tim Propinsi dan Kabupaten/Kota Dalam Rangka Implementasi GF-ATM Ronde 8” untuk wilayah Propinsi Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Selatan. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang sudah dilakukan di Jayapura (31 Maret-5 April 2009) untuk Propinsi Papua dan Papua Barat, serta di Jakarta (20-25 April 2009) untuk propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Selanjutnya juga akan dilakukan pertemuan di Batam (11-16 Mei 2009) untuk propinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau dan Kepulauan Riau.Tujuan dari pertemuan ini adalah:
- Memberikan gambaran mengenai kebijakan dalam penanggulangan AIDS di Indonesia
- Memberikan gambaran mengenai dukungan GFATM dalam upaya penanggulangan AIDS di daerah
- Memberikan gambaran mengenai mekanisme pengelolaan dana GFATM Ronde 8
- Memberikan gambaran mengenai kegiatan penanggulangan AIDS dengan dukungan GFATM Ronde 8 masing-masing pengelola dana hibah utama (PR)
- Memberikan gambaran mengenai dukungan dana dan target
- Memberikan gambaran mengenai kebijakan teknis ruang lingkup dan area program intervensi
- Memberikan gambaran mengenai mekanisme monitoring dan pelaporan kegiatan dan target
- Memberikan gambaran mengenai mekanisme/sistem pengelolaan dan pelaporan keuangan
- Memberikan gambaran mengenai mekanisme/sistem pengadaan dan pelaporan logistik
- Melakukan penyusunan rencana implementasi kegiatan, identifikasi potensial pelaksana kegiatan serta identifikasi masalah dan pemecahan masalah dalam implementasi kegiatan di daerah.
- Penandatanganan kontrak antara Sekretaris KPAN dengan Ketua/Wakil Ketua KPAP.
more
-
The Health and Human Rights journal

The Health and Human Rights journal is currently seeking articles for future issues.
See the full call for submissions at:
http://www.hsph.harvard.edu/fxbcenter/.
Read more and download here
more
-
A great moment in Maine, a free sticker for you.

Today, Gov. Baldacci signed LD 1020 into law, making Maine the fourth state in the union to stand up for marriage equality.
What an incredible moment.
We have a tough fight ahead of us on the ballot this fall, but this is a big step in the right direction, and we should take a moment to celebrate.
People say the fight for gay marriage is about a lot of things. They say it's about equal rights, and civil liberties, and the values that define America — and that's all true.
But this fight is about more than that. This is about love.
It's a wave that was unexpected. Victories in Maine and Vermont and Iowa, along with bills making their way through the legislatures in New Hampshire and New York, have turned the tide on marriage equality. Far-right conservatives and their despicable fear tactics are losing ground every day. You proved it in Maine: this is a fight we can win.
So join in our celebration of the victories we have made and the victories yet to come, and display the sticker. And ask your friends and family to display the sticker. And when you see a stranger with the sticker, you can smile.
Click here to get your free sticker — you can also order multiple stickers to give to your friends and family for a small cost, and every cent of the profits will go towards the fight for marriage equality.
We think Iowa Sen. Majority Leader Mike Gronstal said it best when he said this shortly after Iowa legalized gay marriage:
"Last Friday night, I hugged my wife. You know, I've been married for 37 years. I hugged my wife. I felt like our love was just a little more meaningful last Friday night because thousands of other Iowa citizens could hug each other and have the state recognize their love for each other."
First Iowa, now Maine — this country is changing before our eyes. Click here to order your sticker today.
Thank you for working to build a world more filled with love.
Kate Stayman-London, Campaign Manager
CREDO Action from Working Assets
more
-
Homosexuality in East Timor
ETLJB 25 April 2009 SYDNEY - The rights of the homosexual citizens of East Timor have proven to be a fertile ground for virulent anti-gay vilification by some of East Timor's political leaders. Discussion of the issue in the public domain has also provided an opportunity for the persecution of gay men and women in East Timor through the hysterical anti-human and anti-Christian condemnations of the Roman Catholic Church.
There is a significant gay dimension to East Timorese society. But a proposed constitutional guarantee of the rights of homosexuals in East Timor was, under pressure from the Church and with the approval of homophobic members of East Timor's national parliament, excised from an early draft of the Constitution leaving the gay community susceptible to marginalisation, discrimination and hate-motivated violence. It was on that occasion that a prominent politician denied that there were any gay people in East Timor and declared homosexuality a disease.
The Church's influence in East Timor has actually contributed to the promotion of homosexuality, principally among East Timorese men. Strict compliance with bans on pre-marital sex and an oppressive social regime that seeks to control Timorese women's sexuality in East Timor have most certainly restricted the opportunities for young East Timorese men. But primal human compulsions, in the end, so to speak, find a way of being expressed.
The protection of the rights of gay people in East Timor should not be a matter left outside the mainstream concerns of the justice system. And yet not a single cent of the millions upon millions of dollars of donor money has been dedicated to this.
Gay civil rights movements in advanced secular democracies agitated and achieved unprecedented legal recognition of equality before the law and impartial access to the protections afforded by the law to straight citizens. These achievements did not come about without a long and injurious campaign to refute the prejudices of the conservative Church and to drag the State to entrench secular anti-discrimination and anti-vilification laws and to delete a wide range of laws and policies that discriminated against homosexual people.
If East Timor is to be credibly received as a state based on the rule of law and international laws and standards as its Constitution mandates, both clear policies and legislation must be presented by the Government to the Parliament for enactment to ensure the protection of equal rights to all citizens.
Such efforts will also create a suitable legal and social environment for managing HIV-AIDS infections in East Timor. Unfortunately, as the whole world knows, the spiritually-unstable leaders of the Roman Catholic Church continue to ban the use of condoms as a protective measure to avoid infection. In East Timor, this immoral doctrine will result in the avoidable deaths of men and women.
Intrusions of religious doctrines into the formulation of social policies and legislation in East Timor is a grave error - morally, jurisprudentially and constitutionally.
See also Blog for Timorese Gay Guys
http://easttimorlegal.blogspot.com/2009/04/homosexuality-in-east-timor.html
more
-
LGBT families: the new minority?
CALL FOR PAPERS
The Peace Institute (Institute for Contemporary Social and Political Studies, Ljubljana) and GLBT non-governmental organization Legebitra (Ljubljana) in cooperation with The Institute of Sociology (Hungarian Academy of Sciences, Budapest) and ILGA-Europe will hold an international seminar
LGBT families: the new minority?
The seminar will take place in Ljubljana, Slovenia, 16-18 October 2009.
Family is a challenging concept. Its definition has been changing over time and there has always been debate over who has the power to define who and what the family is. Family is therefore a political battle ground, constantly shifting to suit the culture, class, the economy of the time. The idea that family should be discussed in the plural – as families – has been well accepted in the social sciences. GLBT community has a great share in making family types plural.
In his award winning documentary “Daddy and Papa” Johnny Symons, a gay dad, tells a story of how one of the amusement parks in USA had all children rides closed on the day, when the park was opened especially for gays and lesbians. “This says something about gay culture,” comments Symons’ partner. “The gay culture is not yet aware of the fact that children are becoming part of the community.”
On the other hand, the opponents of LGBT families seem to be acutely aware of it. They fear that the meaning of what they understand as a true and the only valid form of family – that of one man and one woman and children – is going to change. It seems that these fears – translated into fears of losing a popularity vote – heavily affect politicians as well.
It is for this reason that in the political struggles for the legal recognition of same-sex partnership the issues of LGBT families and the adoption of children by same-sex partners are often set aside. Same-sex families are seen as a “disturbing element” in the endeavors for legal victories related to “gay marriage”. It is often explained that LGBT families should “wait a bit” to become a topic on the political agenda. But how long do they have to wait? Doesn’t the “politically pragmatic approach” construct a new minority within a minority: that of LGBT people with children?
The main aim of the seminar is twofold: in the conference part of the seminar we want to make an overall review and comparison of the existing qualitative and quantitative data on LGBT families, primarily in the new EU member states. We would like to invite academics and activists to present their (sociological) research on any aspect of everyday life of LGBT families. The topics to be addressed in the papers and presented at the seminar are (but not limited to):
- Everyday life of LGBT families;
- Media representations of LGBT families;
- Violence, structural and other forms of discrimination towards LGBT families;
- LGBT families and school/kindergarten environment;
- LGBT families as a political issue;
- Issues related to adoption, artificial insemination etc;
- Social parenting
- LGBT families as families of choice
- Issues related to transgender families
In the workshop part of the seminar, we will organize a public round-table in order to stimulate the debate on the legal and social position of same-sex families, to exchange examples of good practices, to address practical problems and issues same-sex families face in everyday life etc.
Deadline for abstracts: June 10, 2009 (max. 1.800 characters). Please, do not forget to send us your CV as well.
The abstracts and CVs should be sent to:
roman.kuhar@mirovni-institut.si
Deadline for papers (for possible publication): September 15, 2009 (max. 45.000 characters)
The seminar language is ENGLISH.
more
-
Pendaftaran Kursus Gender & Seksualitas IV ditutup
Sesuai dengan jadwal, pendaftaran calon peserta Kursus Gender & Seksualitas IV telah ditutup (terakhir tanggal 5 Mei 2009). Hasil seleksi akan diumumkan kepada para calon setelah dilakukan seleksi. Calon peserta yang mendaftar sangat banyak, sementara kapasitas kursus hanya 20 orang. Terima kasih kepada para pendaftar dan pemberitahuan akan disampaikan dalam beberapa hari ke depan.
more
-
Buku Homo untuk Bocah Picu Kontroversi
[Jawa Pos, Selasa, 5 Mei 2009, halaman 5]
SYDNEY - Perhatian masyarakat Australia sedang tertuju pada Jaksa Agung New South Wales (NSW) John Hatzistergos. Sebab, lewat Learn to Include (LTI) yang menjadi program institusinya, kejaksaan agung secara tidak langsung telah merestui beredarnya buku anak kontroversial, "Where Did I Really Come From."
Buku tentang reproduksi karangan Narelle Wickham itu menjadi kontroversi karena mencantumkan tentang keluarga homoseksual. Yakni, keluarga yang terdiri atas pasangan lesbian atau gay dan anak angkat mereka. "Kadangkala, seorang perempuan sangat ingin punya anak, tapi tidak mau berhubungan seksual dengan seorang pria. Jadi, dia membesarkan bayinya sendiri atau berdua dengan perempuan lainnya. Maka, bayi tersebut mempunyai dua ibu," tulis Wickham.
Pada bab kehamilan tidak alami dijelaskan bahwa seorang perempuan akan mendatangi dokter untuk mendapatkan sperma dari donor. "Atau, perempuan tersebut bisa menemui seorang pria yang dia kenal dan bersedia memberikan spermanya," papar Wickham dalam bukunya. Kalimat-kalimat tersebut jelas mengundang reaksi keras para orang tua. Juga kubu oposisi dan lembaga-lembaga nonprofit yang peduli anak-anak.
"Saya rasa, anak-anak tidak terlalu tertarik pada hal semacam itu. Mereka malah lebih tertarik pada toilet training," ujar Jubir Komunitas Oposisi Pru Goward seperti dilansir AAP kemarin (4/5). Atas kasus itu, dia juga mengkritik pemerintahan lokal Hatzistergos karena memprioritaskan topik yang tidak perlu. Padahal, kata dia, masih banyak topik penting lain yang bisa diangkat dalam program LTI.
Menurut dia, keluarga homoseksual cenderung masuk kategori interaksi sosial, bukan pengetahuan seksual. "Tidak ada yang salah dengan menumbuhkan toleransi dan kepekaan sosial terhadap perbedaan. Tapi, mengapa harus topik keluarga homoseksual yang diangkat. Bahkan, saya masih menganggapnya sebagai misteri," papar Goward.
Selain itu, buku yang dianjurkan untuk dibaca kelompok umur 2-12 tahun tersebut menuliskan definisi yang terlalu vulgar tentang hubungan seksual. Di situ dituliskan dengan gamblang bahwa hubungan seksual terjadi ketika "seorang perempuan dan laki-laki saling berpelukan dan bercumbu dan alat kelamin laki-laki tersebut masuk ke alat kelamin perempuan."
Jubir Focus On The Family Deb Sorensen menegaskan bahwa kalimat tersebut tidak akan dipahami anak-anak. Menurut dia, target usia buku yang diilhami buku senada terbitan 1992 itu terlalu muda. "Buku ini justru menodai nilai-nilai tradisional sebuah keluarga dana menanggalkan sensitivitas kita (terhadap isu-isu homoseksual)," paparnya seperti dikutip Daily Telegraph kemarin.
Namun, Wickham membela diri. Dia menegaskan, buku karangannya itu sudah disesuaikan dengan kelompok umur 2-12 tahun. Apalagi, lanjut dia, yang dituliskan di situ adalah fakta. "Lewat buku ini, kami hanya ingin menyatakan kepada anak-anak bahwa ada banyak cara untuk mendapatkan anak," urainya. (hep/ami)
Narelle Wickham is the author of the recently re-published and previously sold-out, picture book, Where Did I Really Come From. This unique book offers parents and their children simple, non-judgmental explanations of sexual intercourse, assisted conception (DI, IVF), pregnancy, birth, adoption and surrogacy. In Australia today more than 80,000 children have been conceived through assisted conception. Narelle is also the author of You, the award-winning novel for teenagers. She has a Masters in Adolescent Mental Health and is currently undertaking a Masters in Forensic Mental Health sponsored by her employer, Justice Health, NSW. Narelle works in the Children’s' Court.
more
-
Jan Hamilton, dari Pak Tentara Menjadi Ibu Polisi
[Jawa Pos, Selasa, 5 Mei 2009, halaman 4]
Feminin, tapi Kemampuan Tetap Seperti Pria
Dari pria macho di kesatuan elite Angkatan Darat, Jan Hamilton kini menjadi kadet polisi wanita. Kewanitaannya tumbuh berkat terapi hormon.
SAMA-sama memakai seragam kadet polisi wanita, tapi ada satu hal yang membedakan Jan Hamilton dari para koleganya di kepolisian Strathclyde, Glasgow, Skotlandia. Yaitu, postur yang macho.
Tingginya menjulang untuk ukuran wanita, yakni 180 cm. Apalagi sudah berada di lapangan latihan, kemampuan fisiknya sama sekali tak kalah dengan para polisi pria. Jarak sekitar 2,5 km dilahap hanya dalam waktu 11 menit.
"Padahal, polwan biasanya diizinkan untuk menyelesaikannya dalam waktu 16 menit," tutur sumber di kepolisian Strathclyde kepada Daily Mail.
Harap maklum, Jan dulu memang pria, bahkan bukan sembarang pria. Dia adalah kapten Ian Hamilton dari kesatuan elite Angkatan Darat Inggris Raya, yaitu Resimen Parasut. Jam terbangnya sangat tinggi. Dia pernah bertugas di Kenya, Oman, Kuwait, Siprus, Jerman, dan Bosnia.
Selama 20 tahun Ian yang memiliki tubuh kekar itu mengabdi sebagai tentara. Tapi, hati nuraninya rupanya tak bisa berbohong. Dia ingin menjadi wanita. Keinginan tersebut selama ini dia pendam dalam-dalam. Ketika diungkapkan kepada pimpina di Angkatan Darat, keinginan itu tidak hanya ditolak. Ian yang dilahirkan 44 tahun lalu itu mulai mendapatkan perlakuan diskriminatif.
Tak terima, Ian membawa kasus tersebut ke pengadilan dua tahun lalu. Dia menang. Angkatan Darat sampai meminta maaf. Tapi, dia memilih keluar dan mewujudkan rencana lamanya: menjalani operasi pergantian kelamin. Operasi itu sukses. Ian lantas menjadi Jan.
Bertekad membuka lembar kehidupan baru, beberapa waktu lalu Jan melamar jadi polisi, tentu sebagai polisi wanita. Dia diterima. Dia menjadi polisi transgender kedua di Inggris Raya. Yang pertama adalah Sersan Chris Lamb. Pada 2001 dia berubah menjadi Sersan Nicola Lamb setelah 26 tahun pengabdian.
Selama dua tahun ke depan, Jan digembleng di Pusat Latihan dan Rekrutmen Kepolisian Strathclyde di Jackton dan Sekolah Polisi Skotlandia di Tulliallan. Sebagai kadet, dia berhak atas bayaran standar GBP 21 ribu (sekitar Rp 332,7 juta). Dia juga menjalani praktik kerja di kepolisian Glasgow.
Seperti dilansir The Scotsman, sejauh ini Jan menunjukkan prestasi bagus. Nilai ujian tulis maupun fisiknya paling tinggi. Tak heran para petinggi kepolisian Strathclyde sangat mendukung dia. Mereka sangat yakin akan kemampuan Jan sebagai mantan tentara. Tak heran, dia pun dipilihkan medan tugas khusus. Dia ditugaskan di Maryhill, salah satu daerah paling berbahaya di Glasgow.
Namun, jangan lantas beranggapan bahwa keseharian Jan masih sangat pria. Bahkan sebaliknya, selain selalu tampil feminin di luar tugas, lekuk tubuh Jan sudah amat wanita. Rahasianya? "Terapi hormon. Itu saya lakukan sejak dua tahun lalu," ujar Ian, eh Jan. (war/ttg)
more
-
Sekolah Aktivis LGBTiQ Jawa Timur (Hari kedua)

Minggu, 3 Mei 2009. Hari kedua Sekolah Aktivis LGBTiQ wilayah Jawa Timur berjalan penuh semangat. Diawali pagi itu dengan sharing Individu, Komunitas, Organisasi dan Gerakan LGBTiQ bersama Ko Budijanto, Herry da Costa (Vera) dan Yusuph Randy kelompok aktivis LGBTiQ ini saling memperkaya dengan pengalaman individu ketika ‘bertemu’ dengan komunitasnya. Dilanjutkan kemudian dengan sesi yang lebih ‘serius’ Hegemoni, Resistensi, Konsensio (Negara, Agama, Budaya, Media dan Sains) dan Skenario Survival: Opsi-opsi Survival bagi Orang atau Kelompok dengan Identitas non-Mainstream bersama Dédé Oetomo hingga lewat tengah hari, mau tidak mau peserta mulai menjadi agak lelah. Dan Setelah break terakhir sesi Tidak Menyerah pada Status Quo yang disampaikan oleh Ahmad Zainul Hamdi, menutup seluruh rangkaian hari kedua ini.
Kawan-kawan aktivis LGBTiQ ini akan melakukan pengamatan di komunitas beneficiaries organisasi mereka masing-masing selama sekitar dua pekan ke depan ini dan mendiskusikannya dalam sesi hari ketiga tanggal 16 Mei 2009 nanti. Meskipun kami tahu Erick & Yohanes (GN), Benny & Erwan (IGAMA), Chen-Chen & Keke (WAMARAPA), Sisca & Denok (PERWAKOS), Nig & Dian (US Community) cukup lelah di ujung sesi hari itu, namun sebagaimana layaknya seorang LGBTiQ, mereka masih tampak segar penuh semangat untuk sebuah foto bersama.
more
-
Apollo Bar and Lounge: Tempat hang out, are U ready?
Apollo Bar and Lounge memberikan suasana Esklusif dan Berbeda untuk komunitas Gay dan Lesbian di Jakarta. Apollo bar menyediakan esklusif bar untuk tempat berkumpul selepas kerja dan menikmati koktail dengan promo yang menarik pada pukul 7:00 sampai 10:00pm, Apollo beroperasi hari selasa hingga sabtu mulai pukul ...
Read more...
more
-
Visiting Fellowships at IDS on Power and Social Change
The Institute of Development Studies, in University of Sussex UK, is offering six visiting fellowships this summer on themes related to power, social change, masculinities, heteronormativity, sexuality etc.
The Participation, Power and Social Change Team at the Institute of Development Studies, UK, will host six Visiting Fellows (VF) during July 2009, as part of a programme of work on Participation and Development Relations (PDR), funded by the Swedish International Development Agenda (Sida) and Swiss Development Co-operation (SDC). The VFs will spend two to four weeks during July in IDS writing up a piece of work that addresses the PDR programme’s core themes of power and social change, with a particular focus on questions of masculinity and heteronormativity. These may be published as IDS Working Papers, or as contributions to ongoing collective publications. Exchanges will also be organised between the VFs and with IDS, including lunchtime seminars.
In order to apply you must:
- Have something to say on one or more of the above issues. We are hoping to give people engaged in exciting activism or progressive work an opportunity to write up a story which they would not otherwise have time or space to document. You could write about a struggle, a project, your recent research, your own life. This may be a piece you are already working on and need time to finish or develop for publication. Please look at the Working Papers, IDS Bulletins, and news items listed on the IDS Sexuality webpage to give you an idea of our usual range of formats and themes (http://www.ids.ac.uk/go/sexualityanddevelopment). However, please do feel free to propose something new and different which goes beyond the limits of our own imaginations!
- Be a resident or national of a non-OECD country in order to qualify for the bursary. We welcome OECD applicants who are able to support themselves and can assist you in finding somewhere reasonably cheap to stay for the residency.
- Be able to write well in English
- Be available to be in IDS for at least two weeks during July 2009
Application Deadline: May 22, 2009
Application Process: Please submit- a one to two page proposal on the piece you would like to write OR a draft piece of work you would like to develop INCLUDING AN ABSTRACT of no less than 300 words
- a short CV & 3-4 line biography describing yourself and the work you do
- a sample of something you have written previously (need not be published)
- details of when you would be available to come to IDS during July
- details of any funding you/your organisation can contribute eg. could you cover travel costs to reach the UK? Would you need full funding for travel and board?
Please email your applications and queries about logistics to Stephen Wood at s.wood@ids.ac.uk and email Andrea Cornwall (a.cornwall@ids.ac.uk) with any other questions about the VF scheme.
more
-
Sekolah Aktivis LGBTiQ Jawa Timur (Hari pertama)
GN mengadakan kembali Sekolah Aktivis LGBTiQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, interseks dan Queer) untuk wilayah Jawa Timur. Diselenggarakan pada tanggal 2-3 & 16-17 Mei 2009 dan yang menjadi peserta masing-masing 2 kawan aktivis dari IGAMA – Malang, WAMARAPA – Malang, PERWAKOS – Surabaya, US Community – Surabaya dan aktivis muda dari GAYa NUSANTARA sendiri. Mereka akan mengikuti penuh proses sepanjang 4 hari dan melaksanakan tugas paska Sekolah Aktivis di organisasi masing-masing sampai 6 bulan ke depan setelah penyelenggaraan tahap pertama ini. Acara serupa namun untuk lingkup nasional pernah diadakan oleh GN pada tanggal 24-28 Juni 2008 yang lalu, dengan melibatkan kawan-kawan aktivis dari Gaya Batam - Batam, Arus Pelangi - Jakarta, Ardhanary Institute - Jakarta, Institute Pelangi Perempuan - Jakarta, Srikandhi Sejati - Jakarta, Himpunan Abiasa - Bandung, Gessang - Solo, Vesta - Yogya, Gaya Celebes – Makassar dan Gaya Dewata – Denpasar.
Penyelenggaraan hari pertama dimulai tanggal 2 Mei 2009 di GAYa NUSANTARA Community Centre (GNCC), Jl. Mojo Kidul I – No. 11A, Surabaya berlangsung hangat penuh keakraban. Diskusi kelompok dan sharing mengenai “Penerimaan Jati Diri sebagai LGBT” difasilitasi oleh Ko Budijanto, sementara materi “Ragam Perilaku dan Orientasi Seksual” disampaikan oleh Dédé Oetomo dengan metode ceramah dan sharing.
Proses pembekalan kawan-kawan aktivis LGBTiQ Jawa Timur ini akan dilanjutkan hingga 3 pertemuan berikutnya dengan pengetahuan yang komprehensif terkait dengan wacana-wacana politik, hukum, kesehatan dan budaya dan masyarakat serta mengajak para penggiat organisasi LGBTiQ ini agar lebih peka dan memahami pentingnya gerakan LGBTiQ dalam membangun perubahan, khususnya kepada orang-orang LGBT, dan bisa mengintegrasikan gerakan LGBTiQ ke dalam gerakan rakyat.
more


























